-->

Thursday, November 13, 2014

LAPORAN PRAKTIKUM PEMBUATAN SAUERKRAUT

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI BUAH DAN SAYUR

ACARA III
PEMBUATAN SAUERKRAUT






KELOMPOK 1

PENANGGUNG JAWAB:
FIKA PUSPITA    (A1M012001)




KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014
I.                    PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam nabati, salah satunya adalah sayuran. Sayuran merupakan sebutan umum bagi bahan pangan asal tumbuhan yang biasanya mengandung kadar air tinggi dan dikonsumsi dalam keadaan segar atau setelah diolah secara minimal. Sayuran merupakan komoditas penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Produksi sayuran Indonesia meningkat setiap tahun dan konsumsinya tercatat 44 kg/kapita/tahun (Adiyoga, 1999). Sayuran, terutama yang berdaun hijau, merupakan salah satu bahan pangan yang baik karena mengandung vitamin dan mineral, antara lain vitamin C, provitamin A, zat besi, dan kalsium. Sayuran termasuk bahan pangan yang banyak mengandung zat gizi dan bermanfat bagi manusia. Selain itu, sayuran merupakan penyumbang serat terbesar bagi tubuh. Serat makanan tersebut berguna untuk kelancaran fungsi pencernan dan metabolisme dalam tubuh (Hambali et al., 2005).
Sayuran memiliki sifat cepat layu dan busuk akibat kurang cermatnya penanganan lepas panen. Sayuran adalah substrat yang sangat disukai oleh mikrobia, baik yeast, fungi maupun bakteri. Tetapi, mikrobia yang pertumbuhannya di sayuran paling cepat adalah bakteri asam laktat (BAL). Fermentasi asam laktat pada sayuran melibatkan sejumlah spesies BAL. Sayuran ini diolah dengan cara menggunakan garam sebagi zat pengawetnya. Oleh sebab itu untuk mengawetkan sekaligus meningkatkan nilai tambah, seringkali dibuat dengan fermentasi. Proses fermentasi dalam pengolahan pangan mempunyai beberapa keuntungan-keuntungan antara lain : proses fermentasi dapat dilakukan pada kondi si pH dan suhu normal sehingga tetap mempertahankan (atau sering bahkan meningkatkan) nilai gizi dan organoleptik produk pangan, karakteristik flavor dan aroma produk yang dihasilkan bersifat khas tidak dapat diproduksi dengan teknik / metoda pengolahan lainnya, memerlukan konsumsi energi yang relatif rendah karena dilakukan pada kisaran suhu normal, modal dan biaya operasi untuk proses fermentasi umumnya rendah, dan teknologi fermentasi umumnya telah dikuasi secara turun temurun dengan baik.
Sauerkraut merupakan salah satu metode pengolahan sayuran dengan cara fermentasi/ peragian dan menggunakan garam sebagi zat pengawetnya. Proses pembuatan sauerkraut sebenarnya tidak begitu jauh berbeda dengan sayur asin, hanya saja sayurannya setelah layu diiris tipis-tipis. Terjadi proses fermentasi spontan dalam pengolahan sauerkraut ini, dan banyak faktor yang dapat mempengaruhi gagal atau berhasilnya pembuatan sauerkraut. Oleh sebab itu, praktikum ini dilaksanakan untuk mengetahui cara pembuatan sauerkraut yang baik dan benar serta mengetahui pengaruh beberapa konsentrasi penambahan garam pada sauerkraut.

B.     Tujuan
1.      Mengetahui cara pembuatan sauerkraut
2.      Mempelajari pengaruh konsentrasi garam terhadap mutu sensori sauerkraut



II.                 TINJAUAN PUSTAKA

Sauerkraut
Sauerkraut adalah hasil fermentasi kubis yang diambil larutan atau ekstraknya (Buckle et al., I987). Sauerkraut (kubis/kol asam) merupakan makanan khas Jerman dari kubis yang diiris halus dan difermentasi oleh berbagai bakteri asam laktat, seperti LeuconostocLactobacillus dan Pediococcus. Sayuran ini diolah dengan cara peragian dan menggunakan garam sebagi zat pengawetnya. Sama dengan produk sayur asin lainnya, sauerkraut merupakan sayuran yang telah diberi asam, akan tetapi asamnya diperoleh dari proses fermentasi sakarida (gula) yang terdapat dalam bahan baku oleh bakteri asam laktat. Asam yang dihasilkan berkisar pada rentang 1,5 ± 2,0 % pada akhir fermentasi dan di identifikasi berupa asam laktat. Pembuatan sauerkraut yaitu dengan cara memotong-motong limbah pasar sayur kemudian ditambahkan garam. Pelunakan pada sauerkraut berawal dari kerusakan flavour karena penyebab kerusakan yaitu khamir dan kapang masuk ke dalam seluruh bagian sauerkraut sehingga menjadi lunak. Di Jerman, sauerkraut dengan rasanya yang asam-asam segar disajikan dengan hidangan utama berupa sosis bratwurst atau roti. Berikut ini adalah beberapa sayuran yang bisa diolah menjadi sauerkraut, diantaranya adalah :

A.    Kubis
Kubis termasuk spesies Brassica olaracea, famili Cruciferae (Pracaya, 1987) (Utama, 2009). Tanaman kubis berasal dari Eropa dan Asia kecil, terutama tumbuh di daerah Great Britain dan Mediteranean. Asal usul tanaman kubis dibudidaya berawal dari kubis Iiar yang tumbuh di sepanjang pantai laut tengah, Inggris, Denmark dan sebelah utara Perancis barat serta pantai Glamorgan (Rukmana, 1994). Kubis termasuk tanaman sayuran semusim yang dipanen sekaligus, yaitu tanaman sumber vitamin, garam mineral dan lain-lain yang dikonsumsi dari bagian tamanan yang berupa daun yang berumur kurang dari 1 tahun dan pemanenannya dilakukan sekali kemudian dibongkar untuk diganti dengan tanaman baru (BPS, 2000).
Kubis dapat tumbuh pada semua jenis tanah, sangat toleran pada tanah lempung berat dan tanggap baik terhadap kapur (Williams et al., 1993) Kubis mengandung vitamin dan mineral yang tinggi. Kandungan dan komposisi gizi kubis tiap 100 g bahan segar sebagai berikut: kalori 25 kal; protein 1,7 g; lemak 0,2 g; karbohidrat 5,3 g; kalsium 64 mg; phospor 26 mg1' Fe 0,7 mg; Na 8 g niacin 0,3 mg; serat 0,9 g; abu 0,7 g; vitamin A 75 Sl; vitamin Bl 0,1 mg; Vitamin C 62 mg dan av 9l-93% (Direktorat GiziDepkes RI, 1981). Oleh karena kandungannya yang banyak bermanfaat di tubuh manusia, kubis banyak di olah dan salah satu nya sebagai sayuran fermentasi sauerkraut.

B.     Wortel
Wortel merupakan sayuran bergizi dan dikenal luas untuk berbagai obat (Sharma, 2006). Wortel juga adalah tumbuhan jenis sayuran umbi yang biasanya berwarna jingga atau putih dengan tekstur serupa kayu. Bagian yang dapat dimakan dari wortel adalah bagian umbi atau akarnya. Wortel adalah tumbuhan biennial (siklus hidup 12 - 24 bulan) yang menyimpan karbohidrat dalam jumlah besar untuk tumbuhan tersebut berbunga pada tahun kedua. Batang bunga tumbuh setinggi sekitar 1 m, dengan bunga berwarna putih. Wortel (Daucus carota L) mempunyai kandungan gizi yang diperlukan tubuh terutama sebagai sumber pro-vitamin A atau beta karoten. Kandungan pro-vitamin A yang terdapat pada wortel adalah 12.00 SI atau 7125 µg (1 SI = 0,6 µg beta karoten). Pro-vitamin A merupakan senyawa kimia pembentuk vitamin A yang sangat diperlukan untuk penglihatan, pertumbuhan dan perkembangan serta mempertahankan jaringan epitel dalam keadan sehat. (Ali et al., 203). Namun, wortel memiliki laju respirasi yang cukup cepat, sehingga mudah rusak. Sehingga harus ada penanganan untuk memperpanjang umur simpannya salah satu nya dengan pengolahan.

C.     Sawi
Sawi merupakan sayuran daun yang cukup penting di Indonesia dan tercatat sebagai  komoditas penting dalam ekspor-impor sayuran.  Sawi atau caisin (Brassica sinensis L.) termasuk famili Brassicaceae, daunnya panjang, halus,  tidak berbulu, dan tidak berkrop. Selain itu sawi juga merupakan tanaman sayuran yang banyak di tanam pada dataran rendah maupun dataran tinggi di Indonesia. Di dataran rendah Kalimantan Selatan, petani menanam sawi atas pertimbangan antara lain karena biaya produksi lebih rendah jika dibandingkan dengan tanaman kubis, berumur pendek sehingga nilai pengambilan cepat  dan resiko kegagalan produksi lebih kecil, banyak dikonsumsi masyarakat serta nilai jualnya cukup menguntungkan (Ilhamiyah et al., 2008).
Tanaman sawi terdiri dari dua jenis yaitu sawi putih dan sawi hijau . Sawi hijau merupakan salah satu sayuran yang kaya vitamin, mulai dari vitamin K, vitamin A, vitamin C dan vitamin E ada dalam sawi hijau (Edi dan Yusri,2010). Gula yang terkandung dalam sayur sawi terdiri dari 85% glukosa dan15% fruktosa. Komposisi zat gizi termasuk gula dalam sawi / kol bervariasi tergantung pada varietas dan kondisi lokasi penanaman (Frazier dan Westhoff. 1988).

D.    Lobak
Lobak (Raphanus sativus) telah diakui  sebagai salah satu obat tradisional yang mempunyai berbagai khasiat, karena  kandungannya terdapat raphanin. Adanya raphanin dalam bentuk protease murni, merupakan kandungan utama lobak  diketahui mempunyai efek sebagai  antibakteri dan antioksidan (Glasby, 1992; Fahey dan Talalay, 1999). Selain itu, umbi lobak mengandung 0,82% asam askorbik, 1-18,6% abu, 0,86% kalsium, 3,6-75,7%  karbohidrat, 18,7% lemak, 0,5-17,6% serat, 25,6% asam glutamat, 0,56% asam linolenik, 3,9% nitrogen, 0,009% asam osalik, 0,6% posfor, 0,14% fitosterol, 8,6%  potasium, 18,2% protein, 0,6% sulfur dan  92,6-94,5% air (Dalimunte, 1999; Nakamura et al, 2001).





III.              METODE
A.    Alat dan Bahan
Alat :
-          Pisau
-          Baskom
-          Timbangan
-          Plastik
-          PH Meter
-          Solasi
Bahan
-          Kubis
-          Sawi
-          Lobak
-          Wortel
-          Garam
-          Air
IV.              HASIL DAN PEMBAHASAN
A.           Hasil Pengamatan Parameter Tekstur
Panelis
Tekstur 1
Tekstur 2
Tekstur 3
 1
4
4
4
2
3
4
4
3
3
4
4
4
3
4
4
5
3
4
4
6
4
4
4
7
4
5
4
8
4
4
4
9
4
4
4
10
4
4
4
11
4
4
4
12
3
4
4
13
4
4
5
14
4
4
5
15
4
4
5
Jumlah
55
61
63
Rata-rata
3,66667
4,06667
4,2

Parameter Tekstur
1
Tidak Renyah
2
Sedikit Renyah
3
Agak Renyah
4
Renyah
5
Sangat Renyah

Keterangan :
Tekstur 1. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 1,5%
Tekstur 2. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 2%
Tekstur 3. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 3%

Pembahasan Parameter Tekstur.
Dari hasil pengamatan yang didapat dari 15 panelis bisa dilihat bahwa Tekstur  yang paling bagus ada pada sauerkraut kubis dengan konsentrasi garam 3% (Tekstur 3) dengan jumlah 63 dan rata-rata 4,2 yang menandakan bahwa sauerkraut tersebut memiliki tekstur Renyah. Dalam hal ini berarti pengaruh penambahan  konsentrasi garam sangat berpengaruh pada tekstur sauerkraut yang dihasilkan. Semakin tinggi konsentrasi garam maka tekstur sauerkraut kubis akan semakin renyah dan baik. Konsistensi yang dihasilkan sauerkraut sesuai dengan karakteristik keberhasilan pembuatan sauerkraut yaitu renyah.
B.       Hasil Pengamatan Parameter Flavor
Panelis
Flavor 1
Flavor 2
Flavor 3
1
2
2
3
2
2
3
3
3
3
4
3
4
3
4
3
5
3
3
4
6
3
3
3
7
3
3
3
8
3
4
2
9
4
3
3
10
3
4
2
11
3
4
3
12
3
3
3
13
2
3
4
14
3
2
3
15
3
4
4
Jumlah
43
49
46
Rata-rata
2,86667
3,26667
3,06667

Parameter Flavor
1
Tidak Enak
2
Sedikit Enak
3
Agak Enak
4
Enak
5
Sangat Enak

Keterangan :
Flavor 1. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 1,5%
Flavor 2. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 2%
Flavor 3. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 3%

Pembahasan Parameter Flavor.
Dari hasil pengamatan yang didapat dari 15 panelis bisa dilihat bahwa Flavor yang paling bagus ada pada sauerkraut kubis dengan konsentrasi garam 2% (Flavor 2) dengan jumlah 49 dan rata-rata 3,26 yang menandakan bahwa sauerkraut tersebut memiliki flavor Agak Enak. Dalam hal ini berarti pengaruh penambahan  konsentrasi garam tidak terlalu berpengaruh pada flavor sauerkraut yang dihasilkan. Pada proses fermentasi mempunyai karakteristik bau asam, fermentasi sauerkraut yaitu bau asam bahkan ada yang bau busuk jika ada oksigen, namaun pada sauerkraut kubis ini flavor dari bau dan pertimbangan rasa yang dihasilkan bagus, sehingga banyak disukai panelis.
C.       Hasil Pengamatan Parameter Warna
Panelis
Warna 1
Warna 2
Warna 3
1
4
1
2
2
2
4
4
3
3
2
4
4
3
3
4
5
3
3
4
6
2
4
4
7
4
2
5
8
2
2
4
9
3
2
4
10
4
4
4
11
3
3
4
12
2
3
4
13
3
3
3
14
2
2
3
15
3
2
3
Jumlah
43
40
56
Rata-rata
2,86667
2,66667
3,73333

Parameter Warna
1
Tidak Cerah
2
Sedikit Cerah
3
Agak Cerah
4
Cerah
5
Sangat Cerah

Keterangan :
Warna 1. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 1,5%
Warna 2. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 2%
Warna 3. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 3%

Pembahasan Parameter Warna.
Dari hasil pengamatan yang didapat dari 15 panelis bisa dilihat bahwa Warna  yang paling bagus ada pada sauerkraut kubis dengan konsentrasi garam 3% (Warna 3) dengan jumlah 56 dan rata-rata 3,73 yang menandakan bahwa sauerkraut tersebut memiliki warna cerah. Dalam hal ini berarti pengaruh penambahan  konsentrasi garam sangat berpengaruh pada warna sauerkraut yang dihasilkan. Semakin tinggi konsentrasi garam maka warna sauerkraut kubis akan semakin cerah dan bagus. Warna yang menunjukan bahwa sauerkraut telah terfermentasi adalah keemasan, awal mulanya kol yang berwarna hijau akan menjadi putih dan kemudian menjadi berwarna keemasan.
D.           Hasil Pengamatan Parameter Rasa
Panelis
Rasa 1
Rasa 2
Rasa 3
1
3
4
3
2
3
4
4
3
2
4
4
4
3
4
4
5
2
3
4
6
3
3
2
7
2
2
3
8
3
2
3
9
3
2
4
10
2
3
4
11
2
2
3
12
3
3
4
13
3
3
4
14
3
3
3
15
2
4
4
Jumlah
39
46
53
Rata-rata
2,6
3,06667
3,53333

Parameter Rasa
1
Tidak Asam
2
Sedikit Asam
3
Agak Asam
4
Asam
5
Sangat Asam

Keterangan :
Rasa 1. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 1,5%
Rasa 2. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 2%
Rasa 3. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 3%

Pembahasan Parameter Rasa.
Dari hasil pengamatan yang didapat dari 15 panelis bisa dilihat bahwa Rasa  yang paling bagus ada pada sauerkraut kubis dengan konsentrasi garam 3% (Rasa 3) dengan jumlah 53 dan rata-rata 3,5 yang menandakan bahwa sauerkraut tersebut memiliki Rasa Asam. Dalam hal ini berarti pengaruh penambahan  konsentrasi garam sangat berpengaruh pada Rasa sauerkraut yang dihasilkan. Semakin tinggi konsentrasi garam maka Rasa sauerkraut kubis akan semakin Asam. Sebagian besar produk hasil fermentasi memiliki cita rasa yang asam, begitupun dengan sauerkraut. Sauerkraut yang diperoleh memiliki rasa asam sesuai dengan hasil uji organoleptik sauerkraut. Rasa asam ini dihasilkan oleh bakteri Leuconostoc mesenteroides. Spesies ini menghasilkan karbondioksida dan asam yang dengan cepat menurunkan pH sehingga mengambat pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan dan aktivitas enzim yang dapat menyebabkan pelunakan sayur-sayuran. Penilaian panelis terhadap rasa sauerkraut bersifat relatif tergantung pada tingkat kesukaan panelis terhadap rasa sauerkraut.
E.       Hasil Pengamatan Parameter Kesukaan
Panelis
Kesukaan 1
Kesukaan 2
Kesukaan 3
1
2
2
2
2
1
3
2
3
3
3
3
4
3
4
2
5
3
3
4
6
2
3
2
7
3
2
4
8
2
4
3
9
4
3
3
10
2
4
2
11
3
3
3
12
3
3
5
13
3
3
4
14
3
3
3
15
3
2
2
Jumlah
40
45
44
Rata-rata
2,66667
3
2,93333

Parameter Kesukaan
1
Tidak Suka
2
Sedikit Suka
3
Agak Suka
4
Suka
5
Sangat Suka

Keterangan :
Kesukaan 1. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 1,5%
Kesukaan 2. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 2%
Kesukaan 3. Sauerkraut Kubis, konsentrasi garam 3%

Pembahasan Parameter Kesukaan
Dari hasil pengamatan yang didapat dari 15 panelis bisa dilihat bahwa Kesukaan yang paling diminati pada sauerkraut kubis dengan konsentrasi garam 2% (kesukaan 2) dengan jumlah 45 dan rata-rata 3 yang menandakan bahwa sauerkraut tersebut memiliki Agak Suka.



V.                 PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari praktikum yang telah kami laksanakan di Laboratorium Teknologi Pertanian Unsoed, kami dapat mengetahui cara pembuatan sauerkraut. Tidak hanya berbahan dasar kubis pada umumnya, tetapi bisa juga menggunakan jenis sayuran lain seperti wortel, sawi dan lobak. Cara pembuatan sauerkraut sendiri prinsipnya adalah terjadi fermentasi pada sayuran yang sudah diiris dengan penambahan garam sehingga munculnya bakteri asam laktat, seperti LeuconostocLactobacillus dan Pediococcus sehingga menghasilkan sayuran yang asam dan lebih tahan lama.
Konsentrasi garam pada praktikum acara sauerkraut ini adalah 1,5%, 2%, dan 3%. Dan mutu sensori yang dilakukan oleh 15 panelis mencakup parameter tekstur, warna, rasa, flavor, dan kesukaan. Dari konsentrasi garam yang berbeda-beda ternyata ada pengaruh terhadap mutu sauerkraut. Dari data pengamatan kami untuk parameter tekstur, rasa, dan warna terbaik ada pada sauerkraut dengan konsentrasi garam 3%, tetapi untuk flavor dan kesukaan terbaik ada pada sauerkraut dengan konsentrasi garam 2%.

B.     Saran
Hal yang perlu diperhatikan dalam fermentasi sauerkraut adalah  kebersihan sayur yang digunakan, jumlah garam yang ditambahkan, jenis garam yang harusnya tidak beryodium karena bisa merubah warna sayur, kondisi kedap udara, dan penyimpanannya setelah selesai difermentasikan. Sayur yang tidak bersih akan menyebabkan  pembusukan. Sayur  harus selalu tercelup air dan dicegah dari kontak dengan udara. Jika tidak akan tumbuh kapang dan khamir Setelah diperam atau difermentasi, maka sauerkraut harus disimpan dalam suhu rendah atau di dalam kulkas, agar masa simpannya dapat berlangsung lama.
                                                                                                           


DAFTAR PUSTAKA

Adiyoga, W. 1999. Pola Pertumbuhan Produksi Beberapa Jenis Sayuran di  Indonesia. Jurnal Hortikultura 9(2): 258-265
Ali, Nur Berlian Venus, Estu rahayu dan Hendro Sunarjono. 2003. Wortel Lobak. Jakarta : Penebar Swadaya.
Badan Pusat Statistik. 2000. Survei Pertanian. Produksi Tanaman Sayuran dan Buahbuahan. Badan Pusat Statistik, Jakarta
Buckle, K. A, R. A. Edwards, G. H. Fleet dan M. Wootton. 1987. Ilmu Pangan. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta (Diterjemahkan oleh H, Purnomo dan Adiono).
Dalimunte, S. 1999. Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Kanker, Penebar Swadaya, Jakarta
Direktorat Gizi Departernen Kesehatan R. I. 1981. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bhratara Karya Aksara, Jakarta
Edi dan Yusri. 2010. Budidaya Sawi Hijau. Jurnal Agrisistem. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian  Jambi. Jambi.
Fahey, J.W dan Talalay, P. 1999. Purification and  Charactirization of Raphanin. A nuetral  Protease from Raphanus sativus leaves, food and Chemical Toxicology. India
Frazier, W.C. dan D.C. Westhoff. 1988. Food Microbiology. McGraw.Hill, Inc,New York.
Glasby, J.S. 1992. Encyclopedia of Antibiotic, 3rd.Ed. The John Willey & Son Ltd. New York, USA
Hambali, E., Ani, S,. Wahyu, P,. 1995. Membuat Keripik Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Ilhamiyah, Ari, dan Ana Z. 2008. Studi stabilitas agroekosistem pertanaman sawi yang diberi kompos. Jurnal Al΄ulum 37(3):1.
Nakamura, Y; Iwahashi, T.A; Tanak, J; Kautani, T; Matsuo, OS; Sato, K and Ohstuki. 2001. A  Principle Antimutagen in Daikon (Raphanus sativus), Japanese White Radish. J. Agric. Food Chem 49 (12) 5755-5760.
Pracaya. 1987. Kol Alias Kubis. Penebar Swadaya, Jakarta
Sharma, H. K, et al. 2006. Optimization Of Pretreatment Conditions Of Carrots To Maximize Juice Recovery By Response Surface Methodology. Journal of Engineering Science and Technology. School of Engineering, Taylor’s University College. Vol. 1, No. 2 158- 165
Utama, CS. A. Mulyanto. 2009. Potensi Limbah Pasar Saytir Menjadi Starter Fermentasi. Jurnal Kesehatan. Universitas Diponegoro Semarang. Vol.2, No. I

Williams, C. N., J. O.Uzo dan W. T. H. Peregrine. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropika. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

No comments:

Post a Comment