-->

Tuesday, October 7, 2014

Bertemu fakta, dan benak berandai-andai

Aku bukan kakak lagi sekarang, anggaplah aku tokoh semu saja di postingan kali ini, coba kalian sekarang mulai berandai-andai bersamaku, aku kini seorang mahasiswi Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) yang tak jauh dari sorotan pangan dan mendalaminya, issu nya kali ini adalah diversifikasi pangan, apa itu diversifikasi? Dalam jurnal ‘Diversifikasi pangan dalam mencapai ketahanan pangan’.
“Diversifikasi pangan seyogianya merupakan upaya alternatif yang ditempuh untuk meningkatkan peranan komoditas pangan lain selain beras dalam mencapai kemandirian pangan, yang pada akhirnya dapat menciptakan ketahanan pangan nasional”. Lastinawati (2010).
ya, diversifikasi kini merupakan buah bibir di Indonesia sendiri. Nah, tugas dari temen temen ITP itu mencari solusi dengan ide baru dalam dunia pangan, lalu berusaha tidak makan beras itulah penyuluhan yang selalu disampaikan baik dari kami sendiri, teman teman yang sudah KKN, dosen-dosen pengajar. Tapi ketika melihat fakta? .... hm. Apa? Masih saja kita mengkonsumsi beras. Aku,,,,,bahkan iya, malu memang sebenarnya. Tapi apa daya itu tidak bisa dipungkiri. Ohya.. tau gak? Depok ‘katanya’ sudah mulai mencanangkan program one day no rice setiap hari selasa, program nya pak walikota Depok itu keren ya *takjub

lalu bagaimana dengan daerah kita sendiri? Haruskah kita hanya berandai-andai?


Menarik, selama bumi ini belum kiamat, maka makanan akan selalu dibutuhkan, setuju kan?. Itu memang faktanya dan mudah saja dipikir dalam logika kita, sudah pasti ilmuku sebagai seorang ITP digunakan. Belum lagi globalisasi teknologi yang dapat merubah semua hal mustahil menjadi nyata. Di negeri tetangga kita sudah ada makanan dari kotoran manusia, membayangkannya saja sangat menjijikkan buatku, tapi itu teknologi maju kawan... aku juga tahu pasti ada pro kontra dibalik produk itu, baik dari segi kehalalannya, nutrisinya dan kesehatan makanan itu sendiri. Lalu apa pendapat kalian? Haruskah kita menciptakan produk yang sama? Coba berandai-andai.....

Masih mengenai teknologi nih, masih bisa kan berimajinasi bareng tokoh semu ini?. Okay... fakta, sebagai kaum hawa aku sangat bersyukur, tentunya kalian juga kan? Wanita itu lebih mudah masuk surga(Aamiin), yaa.. paling banyak juga di neraka (astaghfirullah). Yang penting kita taat sama Allah SWT, orangtua, dan suami kita kelak. Terlepas dari hal itu banyak banget godaan kita sebagai kaum hawa untuk menjaga dan memperbaiki diri, termasuk menjaga penampilan kan? Hehe.. kawan, kosmetik wanita itu baaanyak banget, bahkan aku aja gak kenal semua nya, ga paham juga penggunaannya. Setelah searching searching ternyata perawatan dari ujung kaki sampai ujung kepala itu ADA. WOW BANGET !! Ah, tapi bukan itu yang aku fokusin disini, lagian orang yang merias diri berlebihan itu jelek menurutku, aku lebih suka natural aja dan gak berlebihan pakai nya. Nah, dari segi teknologi kan banyak tuh krim krim pembersih wajah, pemutih kulit, penyamar noda daan...sebagainya, terus mitos mitos kaum hawa yang gak boleh makan ini, makan itu katanya biar gak jerawatan, biar bersih dan embel embel takhayul -__-.
Mungkin gak yaaa suatu saat nanti, semakin dewasanya zaman akan ada ganda campuran(?) antara Teknologi Pangan dengan Pakar Kecantikan yang bersatu menciptakan produk pembersih, pemutih pelembab kulit dalam makanan yang bergizi dan enak dikonsumsi. @$^()$#=-#$#^$%&, mungkin saja bukan? Mayones Cantik akan hadir.. dimana kamu memakan roti tawar kaya karbohidrat yang mayones nya penuh vitamin D untuk kulit serta memberi efek perawatan ditubuh terutama wajah. Hahaha.. bagaimana? Perlu berandai-andai kan?

Kali ini sedikit berbagi ilmu saja, beberapa minggu yang lalu aku belajar dari seorang Dosen lulusan Jepang, begini..dalam pembahasannya kita tahu bahan pangan itu harus diperpanjang umur simpannya , salah satunya dengan pengawetan. Metode pengawetan yang dibahas saat itu adalah pengeringan tradisional atau menggunakan panas sinar matahari, kata beliau bahan yang dikeringkan dibawah sinar matahari ternyata masih mengandung kadar air 15-20%. Itu masih banyak banget looh guys. Dan gak mungkin kita mengawetkan buah dibawah paparan sinar matahari itu, Vitaminnya bakal hilang, warnanya akan berubah, falvor nya bisa jadi mati, kadar air yang masih tinggi juga malah bisa menyebabkan mikroba gampang tumbuh. Lalu pernahkah temen temen disini berpikir pada keseharian temen temen, yaaa... aku ambil contoh deh. pakaian kita yang dijemur dibawah sinar matahari. Coba kalian hitung kadar air di pakaian kalian berapaa? Terus ada mikroba atau enggak di jemuran itu? Kan otomatis hembusan angin membawa partikel-partikel debu yang dahsyat (lebay).... bagaimana? Yuk.. mari berandai-andai.

Bicara soal protein, tempe pasti tahu kan? Yaa makanan fermentasi kedelai itu memeng disinyalir punya banyak protein, protein itu merupakan zat utama tubuh untuk membantu pertumbuhan kawan.. disini pernah gak terusik saat mengkonsumsinya? Bagaimana sih cara buat tempe? Waduuhh... ini sebenarnya issu lama loh. Untuk proses di awal tempe yang ingin di inokulasi itu, tahap salah satunya pembersihan dan pengelupasan biji kedelai dan itu menggunakan kaki, yap.. kaki. Mana ada yang tahu kan kaki pelaku pemroses pembuat tempe itu steril atau enggak? Darimana aja dia jalan? Nahloh....  dari sebuah industri besar kemungkinan steril saja dari 10 sample pasti ada 1 yang terkontaminasi. aku sih membayangkan pasti ada spora-spora bergentayangan disitu, ada mikroorganisme hijrah kesitu. TEMPE tapi itu enak..... lalu bagaimana ya? Perlu berandai-andai lagi..


Tokoh semu, Fika Puspita.

Ditemani secangkir teh buatan ibu, matahari tenggelam... 
Bekasi 6 Oktober 2014

No comments:

Post a Comment