-->

Tuesday, January 14, 2014

MAKALAH ASAM LEMAK PADA GONAD BULU BABI

TUGAS TERSTRUKTUR
KIMIA PANGAN 1
ASAM LEMAK PADA GONAD BULU BABI


Disusun Oleh :
Puti Addina Andam                A1M009023
Martadiah Takwa                  A1M010037
Laily Nur Alifah                     A1M010084
Fauziah Rahmi Halim            A1M011010
Arfini Hidayanti                     A1M011051
Fika Puspita                           A1M012001
Dwi Apriyanti Kurniawan     A1M012002

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
PURWOKERTO
2013



I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Secara geografi Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam laut yang berpotensi untuk dimanfaatkan secara lestari. Sumber daya alam laut tersebut terdiri atas berbagai jenis ikan, moluska, ekinodermata dan krustase. Masyarakat pesisir sejak lama telah memanfaatkan sumber daya alam laut tersebut sebagai sumber makanan, mineral, obat-obatan, dan energi (South and Skelton, 2000 dalam Leimena, 2002).
            Bulu Babi merupakan hewan asosiasi terumbu karang yang sangat unik dan berbahaya. Hal ini karena bentuk tubuhnya yang berduri runcing serta berbisa. Walaupun tidak mematikan, bisa yang dihasilkan diadema cukup untuk membuat kita meringis seharian.
            Bulu babi jenis Tripneustes gratilla merupakan salah satu jenis bulu babi bernilai ekonomis penting yang banyak dijumpai di perairan pantai Indonesia terutama di daerah padang lamun dan merupakan salah satu makanan laut yang sangat digemari oleh masyarakat Maluku, khususnya masyarakat di Pulau Banda Kabupaten Maluku Tengah dan Pulau Osi Kabupaten Seram Bagian Barat. Komponen lemak pada biota laut banyak mendapat perhatian selama ini karena mempunyai efek kesehatan, diantaranya adalah kemampuannya untuk menurunkan kadar kolesterol darah pada manusia dan dari segi pangan lemak sangat penting karena fungsinya sebagai penentu cita rasa (Chasanah dan Andamari, 1998).
            Lemak adalah biomolekul yang larut dalam pelarut organik dan terdiri dari beberapa jenis molekul seperti trigliserida, fosfolipid, dan kolesterol. Pada umumnya jenis lemak dalam membran adalah fosfolipid (Gilbert, 2000). Lemak disusun oleh asam-asam lemak yang terdiri atas asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak tak jenuh terdiri atas asam lemak tak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acid, PUFA) dan asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid, MUFA). Asam lemak esensial mencakup golongan asam lemak tak jenuh jamak tipe cis, khususnya dari kelompok asam lemak Omega-3 (misalnya asam α-linolenat, EPA, dan DHA) dan asam lemak Omega-6 (misalnya asam linoleat). PUFA berperan dalam menurunkan kadar kolesterol dan lemak dalam darah sehingga tidak terjadi penimbunan kolesterol dan lemak pada dinding pembuluh darah. PUFA bahkan mampu memperbaiki dinding arteri yang telah rusak (Winarno, 2000). Asam lemak tak jenuh tunggal tergolong netral, yakni tidak jahat dan tidak pula bersifat menguntungkan untuk kesehatan tubuh. Jenis asam lemak ini tidak menyebabkan darah menjadi lengket. Kemampuan tubuh untuk mensintesis asam lemak tak jenuh yang mempunyai dua atau lebih ikatan rangkap sangat terbatas, sehingga asam lemak tersebut harus didapatkan dari makanan (Almatsier, 2000).

B. Tujuan
            Tujuan pembuatan makalah ini antara lain:
1.     Memenuhi tugas mata kuliah Kimia Pangan I.
2.     Mengenal bulu babi dan morfologinya.
3.     Mengetahui kandungan asam lemak pada gonad bulu babi.






II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Deskripsi dan Klasifikasi Bulu Babi 
Bulu babi termasuk Filum Echinodermata, bentuk dasar tubuh segilima. Mempunyai lima pasang garis kaki tabung dan duri panjang yang dapat digerakkan. Kaki tabung dan duri memungkinkan binatang ini merangkak di permukaan karang dan juga dapat digunakan untuk berjalan di pasir. Cangkang luarnya tipis dan tersusun dari lempengan-lempengan yang berhubungan satu samalain.
Pada bagian tengah sisi aboral terdapat sistem apikal dan pada bagian tengah sisi oral terdapat sistem peristomial. Lempeng-lempeng ambulakral dan interambulakral berada diantara sistem apikal dan sistem peristomial. Di tengah-tengah sistem apikal dan sistem peristomial termasuk lubang anus yang dikelilingi oleh sejumlah keping anal (periproct) termasuk diantaranya adalah keping-keping genital. Salah satu diantara keping genital yang berukuran paling besar merupakan tempat bermuaranya sistem pembuluh air (waste vascular system). Sistem ini menjadi cirri khas Filum Echinodermata, berfungsi dalam pergerakan, makan, respirasi, dan ekskresi. Sedangkan pada sistem peristomial terdapat pada selaput kulit tempat menempelnya organ “lentera aristotle”, yakni semacam rahang yang berfungsi sebagai alat pemotong dan penghancur makanan. Organ ini juga mampu memotong cangkang teritip, molusca ataupun jenis bulu babi lainnya (Azis 1987 dalamRatna 2002). Di sekitar mulut bulu babi beraturan kecuali ordo Cidaroidea terdapat lima pasang insang yang kecil dan berdinding tipis (Hyman 1955 dan Barnes 1987 dalam Ratna 2002)
Hewan unik ini juga memiliki kaki tabung yang langsing panjang, mencuat diantara duri-durinya. Duri dan kaki tabungnya digunakan untuk bergerak merayap di dasar laut. Ada yang mempunyai duri yang panjang dan lancip, ada pula yang durinya pendek dan tumpul. Mulutnya terletak dibagian bawah menghadap kedasar laut sedangkan duburnya menghadap keatas di puncak bulatan cangkang. Makanannya terutama alga, tetapi ada beberapa jenis yang juga memakan hewan-hewan kecil lainnya (Nontji, 2005).
            Pada umumnya bulu babi berkelamin terpisah, dimana jantan dan betina merupakan individu-individu tersendiri (gonochorik/dioecious). Spesies gonochorik secara khusus memiliki rasio seks sendiri dan jarang bersifat hemafrodit. Munculnya hemafrodoitisme pada Tripneustes gratilla adalah 1 dari 550 individu. Pembelahan bulu babi terjadi secara eksternal, dimana sel telur dan sel sperma di lepas ke dalam air laut di sekitarnya (Sugiarto dan Supardi 1995 dalam Ratna 2002). Gonad jantan dan betina pada bulu babi juga sulit dibedakan tanpa menggunakan mikroskop. Secara kasar hanya warna yang digunakan untuk membedakan gonad. Misalnya pada bulu babi Paracentrotus livindus, gonad jantan berwarna kuning sedangkan betina berwarna orange
            Dalam penelitian Gunarto dan Setiabudi (2002) di perairan Pulau Barang Lompo, Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, didapati ukuran bulu babi terbesar memiliki kisaran tinggi cangkang 50-61 mm, diameter cangkang 86-94 mm, berat total 148-331 g. Sedangkan ukuran bulu babi terkecil dengan ukuran tinggi cangkang 27,2-36,4 mm, diameter cangkang 47,4-66,0 mm, dan berat total 41,4-110,9 g.
Bulu babi termasuk organisme yang pertumbuhannya lambat. Umur, ukuran, dan pertumbuhan tergantung kepada jenis dan lokasi. Chen dan Run (1988) dalam Tuwo (1995) diacu dari Ratna (2002) melaporkan bahwa bulu babi jenis Tripeneuste gratilla yang dipelihara di laboratorium di Taiwan mengalami metamorfos pada umur 30 hari. PertumbuhanTripneustes gratilla sangat cepat pada awal perkembangannya, tetapi jumlahnya terbatas. Hal ini diduga erat kaitannya dengan banyaknya predator yang dialami oleh hewan berukuran kecil. Setelah mencapai umur tertentu, cangkangnya sudah cukup kuat sehingga jumlah predator yang dapat menyerang dan memecahkan cangkangnya berkurang.
Bulu babi mempunyai banyak predator, yaitu berbagai jenis ikan, termasuk hiu, anjing laut, lobster, kepiting, dan gastropoda (Kenner 1992; Tegner dan Dayton 1981 dalam Tuwo 1995). Hal ini juga menyebabkan rendahnya densitas bulu babi. Predator utama bulu babi jenis Diadema setosum adalah ikan Buntal (Tetraodon) dan ikan Pakol (Balistes) yang mempunyai gigi yang kuat dan tajam yang dapat mematahkan duri-duri dan mengoyak cangkang bulu babi (Nontji 2005). Mortalitas bulu babi umumnya sangat tinggi (Ebert 1975 dalam Tuwo 1995). Secara umum di alam bulu babi dapat mengalami kematian massal pada suhu 34-40˚ C .

B. Biologi Bulu Babi (Tripneustes gratilla L)
            Bulu babi Tripneustes gratilla L termasuk dalam kelas Echinoidea, dari filum Echinodermata (binatang berkulit duri). Ciri umum dari kelas Echinoidea adalah biota ini tidak mempunyai lengan bebas, tetapi hampir seluruh tubuhnya mengandung duri-duri yang dapat digerakkan (Suwignyo, 1989 dalam Roslita, 2000). Berdasarkan bentuk tubuhnya bulu babi dibagi menjadi bulu babi beraturan (regular echinoids) dan bulu babi tidak beraturan (irregular echinoids) (Hyman, 1955 dalam Roslita, 2000), dan hanya bulu babi beraturan saja yang dapat dimakan gonadnya (Darsono, 1982 dalam Roslita, 2000).
            Bulu babi Tripneustes gratilla L tergolong kelompok bulu babi beraturan. Pada umumnya bulu babi beraturan mempunyai struktur cangkang berbentuk bola yang biasanya sirkular atau oval dan agak pipih pada bagian oral dan aboral. Permukaan cangkang dilengkapi duri dengan panjang yang berbeda tergantung jenisnya, serta dapat digerakkan (Barnes, 1987 dalam Roslita, 2000). Cangkang tersusun dari lempengan-lempengan kapur yang membentuk pola pentaradial simetri. Lima pasang lempeng ambulakral tersusun bergantian dengan 5 pasang lempeng interambulakral. Lempeng ambulakral berukuran lebih kecil dan mempunyai lubang tempat penjuluran kaki tabung. Sedangkan lempeng interambulakral berukuran lebih besar dan melebar. Duri-duri utama terletak pada lempeng interambulakral, sedangkan duri-duri kecil tersebar di semua lempeng ambulakral (Sugiarto dan Supardi, 1995).
            Tubuh bulu babi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian oral, bagian aboral, dan bagian di antara oral dan aboral (Anonymous, 1973 dalam Roslita, 2000). Pada bagian tengah sisi aboral terdapat sistem apikal dan pada bagian tengah sisi oral terdapat sistem peristomial. Lempeng-lempeng ambulakral dan interambulakral berada di antara sistem apikal dan sistem peristomial. Di tengah-tengah sistem apikal terdapat lubang anus yang dikelilingi oleh sejumlah keping anal (periproct) termasuk diantaranya adalah keping-keping genital. Salah satu di antara keping genital yang berukuran paling besar merupakan tempat bermuaranya sistem pembuluh air (madreporit). Sedangkan pada sistem peristomial terdapat selaput kulit tempat menempelnya organ lentera aristoteles yang berfungsi sebagai pemotong dan penghancur makanan bulu babi yang berupa tanaman laut (Sugiarto dan Supardi, 1995). Organ ini juga mampu memotong cangkang teritip, moluska, ataupun jenis bulu babi lainnya (Aziz, 1993).
            Pada umumnya bulu babi berwarna gelap antara lain hitam, hijau, coklat, dan ungu. Meskipun beberapa diantaranya pucat atau mendekati putih, namun ada juga yang berwarna merah. Biasanya spina dan badannya menujukkan pewarnaan yang sama walaupun berbeda pada beberapa spesies. Bulu babi yang masih muda mampu mengubah warna asal cangkang dan spina menjadi abu-abu pucat atau putih oleh kontraksi dari melanofor yang berisi pigmen hitam. Warna bulu babi dibatasi oleh pigmen sel atau mungkin terdapat sebagai kumpulan granula pada dermis (Hyman, 1975 dalam  Kasim, 1999). Tripneustes gratilla L mempunyai warna yang khas jika dibandingkan dengan bulu babi lainnya. Pada sisi ambulakrum berwarna putih dan hitam, dan yang lainnya kadang berwarna kemerahan. Podia yang menjulur keluar biasanya berwarna putih (David and George, 1979 dalam Kasim, 1999).
            Aktivitas merumput atau memakan lamun dan alga merupakan cara makan Tripneustes gratilla L. Aktivitas ini dimungkinkan karena hewan ini mempunyai alat yang disebut lentera Aristoteles, yang berfungsi sebagai rahang dan gigi. Bulu babi dapat memotong berbagai jenis alga dan lamun. Tidak semua jenis bulu babi melakukan aktivitas merumput karena jenis-jenis tertentu juga bersifat sebagai predator atau omnivora (Aziz, 1993).
            Tripneustes gratilla L tidak hanya menyukai berbagai jenis lamun tetapi juga memakan jenis-jenis alga. Secara alami hewan ini lebih sering dijumpai di daerah padang lamun dengan memakan jenis-jenis lamun Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides dibanding dengan daerah pertumbuhan alga (Mukai and Nojima, 1985). Laurence (1975) dalam Kasim (1999) mengemukakan bahwa kelompok bulu babi herbivora dari genus Tripneustes, Temnopleurus, Diadema, Echinometrix, Toxopneustes, dan Mespilia, di samping merupakan penghuni tetap padang lamun, juga dapat ditemukan di daerah pertumbuhan alga pada ekosistem terumbu karang. Hal ini disebabkan karena di samping menyukai daun lamun, hewan-hewan ini juga menyukai jenis-jenis alga tertentu. Herring (1972) dalam Kasim (1999) melaporkan hasil analisis isi lambung dari berbagai jenis bulu babi di perairan Zanzibar. Peneliti tersebut mengemukakan bahwa lamun merupakan komponen utama makanan bulu babi jenis Tripneustes gratilla L, D. setosum, dan Echinometrix calamaris. Mukai and Nojima (1985) mengemukakan bahwa Tripneustes gratilla L merupakan perumput yang penting pada komunitas lamun, dan dari analisis isi lambung didapatkan bahwa lamun jenis Thalassia hemprichii merupakan 82,4% dari isi lambung Tripneustes gratilla L yang ada di perairan Papua Nugini.

C. Gonad Bulu Babi
            Bagian dari bulu babi yang biasa dimanfaatkan adalah gonad atau telurnya, baik gonad jantan atau gonad betina. Gonad tersebut terdiri atas 5 lobi yang tersusun secara radial dan tergantung sepanjang lempeng interambulakral, mengisi lebih dari separuh rongga badan pada sisi apikal. Tidak ada perbedaan penting antara gonad jantan dan betina, baik dalam ukuran maupun strukturnya  (Darsono, 1986). Tekstur gonad mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan gonad (gametogenesis). Gonad pada tingkat matang berukuran sangat besar, bertekstur lunak, dan berlendir. Gonad seperti ini tidak diinginkan sebagai produk perikanan. Telur yang dikehendaki adalah yang bertekstur kompak. Kondisi ini terjadi pada saat fase pijah lanjut  (Darsono, 1986).
            Jenis-jenis bulu babi yang biasa dimakan dan diperjualbelikan diantaranya adalah Tripneustes gratilla L, Strongylocentrotus franciscanus, S. doebrachiensis, S. purpuratus, Echinus esculentus, Mespilia globulus, Heliochidaris crassipina, H. tuberculata, H. erythogamma, dan Paracentrotus lividus (Aziz, 1993). Beberapa jenis bulu babi di Indonesia yang diketahui bisa dimakan gonadnya adalah Diadema setosum, Echinometra mathaei, Tripneustes gratilla, Echinotrix sp., dan Salmacis sp. (Anonymous, 1973 dalam Roslita 2000).

D. Habitat dan Penyebaran Bulu Babi
Bulu babi hidup di ekosistem terumbu karang (zona pertumbuhan alga) dan lamun. Bulu babi ditemui dari daerah intertidal sampai kedalaman 10 m dan merupakan penghuni sejati laut dengan batas toleransi salinitas antara 30-34 ‰ (Aziz 1995 dalam Hasan 2002). Hyman (1955) dalam Ratna (2002) menambahkan bahwa bulu babi termasuk hewan benthonic, ditemui di semua laut dan lautan dengan batas kedalaman antara 0-8000 m. Karena echinoide memiliki kemampuan beradaptasi dengan air payau lebih rendah dibandingkan invertebrate lain. Kebanyakan bulu babi beraturan hidup pada substrat yang keras, yakni batu-batuan atau terumbu karang dan hanya sebagian kecil yang menghuni substrat pasir dan Lumpur, karena pada kondisi demikian kaki tabung sulit untuk mendapatkan tempat melekat. Golongan tersebut khusus hidup pada teluk yang tenang dan perairan yang lebih dalam, sehingga kecil kemungkinan dipengaruhi ombak.
            Dalam penelitian Gunarto dan Setiabudi (2002) dilaporkan bahwa perkembangan gonad bulu babi pada musim kemarau tidak dalam satu stadium, tetapi terdapat gonad dlam periode berkembang, matang, pijah.

E. Masa Hidup Bulu Babi
Bulu babi merah (Strongylocentrotus franciscanus) yang sejak lama dianggap sebagai momok di lautan. Karena makan tumbuh-tumbuhan di bawah air dan banyak orang yakin hewan inilah yang bertanggung jawab atas kerusakan ekosistem laut. Tidak heran bila banyak orang berusaha meracuninya, ternyata dalam penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa bulu babi merah tumbuh jauh lebih lambat dari perkiraan semula, namun hidup lebih lama dibanding dugaan awal. Mereka tidak sekedar mencapai umur tujuh hingga 15 tahun seperti diperkirakan, tapi bisa mencapai 200 tahun lebih (www.kompas.com)
            Lebih menarik lagi, hewan-hewan lanjut usia itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda uzur. Menurut Dr. Albert dalam kompas.com, walaupun mereka bisa mati karena serangan hewan pemangsa, penyakit tertentu, atau ditangkap nelayan, namun hewan-hewan ini tidak menunjukkan tanda-tanda ketuaan lanjut. Bukti-bukti menunjukkan bahwa bulu babi merah berusia 100 tahun tidak begitu berbeda dengan yang berumur 10 tahun. Kenyataan mengindikasikan bahwa semakin dewasa bulu babi merah, maka makin produktif mereka menghasilkan sperma dan telur. Hewan ini juga masih mampu berkembang biak walau usianya sudah amat tua. Di antara hal-hal lain, data radio karbon juga menunjukkan bulu babi merah memiliki pertumbuhan yang nyaris tidak terlalu dipengaruhi kondisi laut dan variabel lain (www.kompas.com).
            Analisis terhadap genom bulu babi juga menunjukkan bahwa bulu babi memiliki sistem kekebalan dan kepekaan gen yang unik dan kompleks. Kemiripan antara manusia dan bulu babi yang memiliki jalur kekerabatan jauh dapat dijadikan model untuk memahami proses evolusi. Dalam proyek genetika yang dilakukan di California, para ilmuwan mengambil DNA dari sperma seekor bulu babi jantan California yang hidup menyebar di pantai barat AS dari Baja hingga Alaska. Hasil identifikasi menunjukkan ada 23.300 gen yang tersusun dari 814 juta kode DNA yang dimiliki seekor bulu babi. George Weinstock dari Sekolah Kedokteran Baylor AS sebagai pemimpin dalam proyek pengurutan DNA bulu babi menyatakan bahwa 70 persen gen bulu babi ternyata memiliki kemiripan dengan manusia sementara pada lalat buah hanya 40 persennya, dengan dua jenis filum yang berbeda. Melalui mekanisme ini dapat menjelaskan mengapa hewan tersebut bisa bertahan hingga 100 tahun (
www.kompas.com).

F. Pemanfaatan Bulu Babi
Bagian dari bulu babi yang biasa dimanfaatkan adalah gonad atau telurnya, baik gonad jantan maupun gonad betina. Bulu babi beraturan mempunyai lima gonad yang tergantung sepanjang bagian dalam interambulakral pada daerah aboral (Hyman 1955 dalam Ratna 2002). Tergantung lingkungan dan faktor genetik, bulu babi muda dapat mencapai kematangan seksual sekitar 1-2 tahun setelah beralih dari fase larva ke fase juvenil. Trinidad-Roa (1989) dalam Setiabudi (1996) diacu dari Ratna 2002, melaporkan bahwa Tripneutes gratilla dari Bali mengalami matang kelamin pertama kali pada umur 2.5 tahun. Setelah itu produksi gonadnya menurun. Hal ini ditemukan juga pada kelas echinoidea lainnya (Conand 1989 dalam Tuwo 1995 diacu dari Ratna 2002).
            Gonad yang matang berukuran sangat besar, mengisi ruang yang kosong diantara untaian usus dan meluas mulai pertengahan aboral hingga mencapai lentera aristotle (Hyman 1955 dalam Ratna 2002). Umumnya gonad yang matang bertekstur lunak dan berlendir. Telur seperti ini tidak diinginkan sebagai produk perikanan. Telur atau gonad yang dikehendaki adalah yang bertekstur kompak, dimana kondisi ini terjadi pada saat fase pijah lanjut (Bernard 1977 dalam Darsono 1986 diacu dari Ratna 2002).
Pemanenan bulu babi sebaiknya dilakukan pada saat indeks kematangan gonad mencapai maksimal atau sebelum musim pemijahan. Secara teoritis hewan yang boleh ditangkap sebaiknya adalah yang pernah memijah minimal satu kali agar hewan dapat berkembang biak sebelum tertangkap (Tuwo 1995dalam Ratna 2002), di California bulu babi merah (Strongylocentrotus fransciscanus) baru dapat dipanen setelah berumur antara 5-8 tahun. Sedangkan di daerah Shetland pemanenan Echinus esculentus biasanya dilakuka mulai akhir Desember sampai akhir Februari, tepatnya sebelum musim pemijahan (Penfold dan Boyle 1996 dalam Ratna 2002). Berat bulu babi biasanya mencapai 25% dari total berat tubuhnya, tergantung kepadatan populasi dan tersedianya cukup makanan di alam (Darsono 1986 dalam Ratna 2002). Pemanenan sebaiknya tidak dilakukan jika rata-rata persentase gonad masih dibawah 10% (Penfold dan Boyle 1996 dalam Ratna 2002).
Sebagian besar negara-negara di Amerika dan Eropa telah mulai mengembangkan budidaya jenis ini. Meskipun dalam perkembangannya, terlihat jelas adanya perbedaan mencolok antara produk tangkapan di laut dan telur dari hasil budidaya. Perbedaan itu utamanya terletak pada warna dan tekstur telur yang dihasilkan. Warna dan tekstur adalah dua faktor penentu dalam kualitas dan harga bulu babi. Menurut Pearce dkk (2004) bahwa bulu babi yang diberi pakan buatan dapat menghasilkan telur yang besar namun warna telur yang dihasilkan pucat (pale), sementara warna telur bulu babi tangkapan alam jauh lebih kuning kemerahan. Hal ini berpengaruh terhadap harga jual (www.beritaiptek.com).
            Cangkang dari jenis bulu babi tertentu dilapisi oleh pigmen cairan hitam yang stabil. Cairan ini dapat digunakan sebagai pewarnaan jala dan kulit. Cangkang dari bulu babi juga diminati sebagai barang perhiasan. Sedangkan organ dari sisa pengolahan bulu babi biasanya berupa cangkang dan organ dalam (jeroan) dapat diproses lebih lanjut menjadi pupuk (Zaitsev et al 1969 dalam Ratna 2002).
            Umumnya gonad bulu babi dijual dalam keadaan segar, karena memiliki nilai paling tinggi. Beberapa kriteria kualitas gonad yang memengaruhi harga beli di pelelangan adalah jenis, negara asal, warna, tekstur, ukuran, rupa, kesegaran, dan rasa. Diantara kriteria tersebut warna, kesegaran dan negara asal merupakan faktor terpenting dalam menentukan harga. Berdasarkan warnanya, mutu gonad bulu babi dapat dikelompokkan menjadi mutu sangat baik (Grade A) dengan gonad berwarna kuning atau orange terang, mutu baik (Grade B) dengan warna gonad merah muda atau kuning pucat (krem) dan mutu jelek (reject) dengan gonad berwarna coklat (Penfold dan Boyle 1996; Murniyati dan Setiabudi 1998 dalam Ratna 2002).

G. Komposisi Kimia Gonad Bulu Babi
Gonad bulu babi merupakan makanan tambahan yang kaya akan nilai gizi. Lee dan Hard (1982) dalam Azis (1995)diacu dari Ratna (2002) melaporkan bahwa dari analisis protein bulu babi, ternyata didalamnya terkandung sekitar 28 macam asam amino. Selain itu gonad bulu babi juga kaya akan vitamin B kompleks, vitamin A dan mineral (Kato dan Schoeroter 1985dalam Azis 1995 diacu dari Ratna 2002). Pada tabel dapat dilihat hasil analisis proksimat beberapa gonad bulu babi dan menyajikan komposisi kimia gonad bulu babi Diadema setosum.


            Gonad bulu babi sebagai organ reproduksi merupakan timbunan protein berkualitas tinggi yang kaya akan asam-asam amino yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dari hasil analisa kualitatif gonad bulu babi Diadema setosum diketahui bahwa dalam gonad tersebut ditemukan lima asam amino esensial bagi orang dewasa yaitu lisin, metionin, fenilalanin, threonin, dan valin, dua asam amino esensial bagi anak-anak yaitu arginin dan histidin, juga ditemukan asam amino esensial lain yaitu asam aspartat, asam glutamat, glisin, serin (Ismail et al 1981 dalam Darsono 1982 diacu dari Ratna 2002). Beberapa jenis asam amino yang terkandung dalam gonad bulu babi sangat berperan dalam karakterisasi rasa spesifik gonad bulu babi (Fuke dalamShahidi dan Botta 1992). Jenis-jenis asam amino tersebut adalah glisin, valin, alanin, methionin, dan asam glutamat. Selain itu pula nukleotida dari jenis IMP (Inosin Mono Phosphat) dan GMP (Guanosin Mono Phosphat) juga ikut memengaruhi karakterisasi rasa gonad bulu babi, terutama dalam pembentukan rasa ”umami”, yaitu rasa khas seperti golongan daging. Kandungan komponen aktif rasa dari gonad bulu babi disajikan pada table: 3.
 
            Beberapa faktor yang memengaruhi komposisi kimia biota laut antara lain adalah jenis dan golongan ikan, umur, jenis kelamin, aktivitas pergerakan ikan. Musim, dan jenis makanan yang tersedia serta fase reproduksi biota tersebut.
            Gonad bulu babi merupakan makanan tambahan yang kaya akan nilai gizi. Lee dan Hard (1982) dalam Aziz (1995) melaporkan bahwa dari analisis protein gonad bulu babi, ternyata didalamnya terkandung sekitar 28 macam asam amino. Selain itu gonad bulu babi juga kaya akan vitamin B kompleks, vitamin A, dan mineral (Kato dan Schoeroter, 1985 dalam Aziz, 1995). Pada Tabel 1 dapat dilihat hasil analisis proksimat beberapa jenis gonad bulu babi dan Tabel 2 menyajikan komposisi kimia gonad bulu babi Diadema setosum.
Sumber: Murniyati dan Setiabudi (1998) dalam Roslita (2000)

Sumber: Ismail et al. (1982) dalam Darsono (1986)
            Gonad bulu babi sebagai organ reproduksi merupakan timbunan protein berkualitas tinggi yang kaya akan asam-asam amino yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dari analisis kualitatif gonad bulu babi Diadema setosum diketahui bahwa dalam gonad tersebut ditemukan lima asam amino essensial bagi orang dewasa, yaitu lisin, methionin, fenilalanin, threonin, dan valin, dua asam amino essensial bagi anak-anak, yaitu arginin dan histidin, serta ditemukan asam amino semi essensial yaitu sistin. Selain itu masih ditemukan asam amino yang tidak essensial yaitu asam aspartat dan asam glutamat, glisin, dan serin (Ismail et al., 1981 dalam Darsono, 1982). Asam-asam amino essensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesis di dalam tubuh manusia dan untuk mencukupi kebutuhan asam amino tersebut harus dimasukkan ke dalam tubuh melalui makanan. Sedangkan asam amino non essensial dapat disintesis dari asam amino yang lain atau dari asam keto secara aminasi di dalam tubuh manusia (Winarno et al., 1980). Selain kaya asam amino, dalam gonad bulu babi juga mengandung banyak asam lemak. Gonad bulu babi Strongylocentrotus droebachiencis mengandung asam-asam lemak dari jenis 5-Oletinic yang besarnya mencapai 10-21% dari total lemak. Yang termasuk asam lemak 5-Oletinic adalah asam lemak yang mempunyai rantai ikatan 5-18=1; 5-20=1; 13-20=2; 1,5,11-20=3; 5,11,14-20=3; dan 5, 11, 12, 14-20=4 (Murniyati dan Setiabudi, 1998).
            Shahidi dan Botta dalam Roslita (2000) melaporkan bahwa beberapa jenis asam amino yang terkandung dalam gonad bulu babi sangat berperan dalam karakterisasi rasa spesifik gonad bulu babi. Jenis-jenis asam amino tersebut adalah glisin, valin, alanin, methionin, dan asam glutamat. Selain itu pula nukleotida dari jenis IMP (Inosin Mono Phosphat) dan GMP (Guanosin Mono Phosphat) juga ikut mempengaruhi karakterisasi rasa gonad bulu babi, terutama dalam pembentukan rasa “umami”, yaitu rasa khas seperti golongan daging. Kandungan k```omponen aktif rasa dari gonad bulu babi dapat dilihat pada Tabel 3.
            Beberapa faktor yang mempengaruhi komposisi kimia biota laut antara lain, jenis dan golongan ikan, umur, jenis kelamin, aktivitas pergerakan ikan, musim, dan jenis makanan yang tersedia serta fase reproduksi biota tersebut (Hadiwiyoto, 1993 dalam Setiabudi, 1998).

H. Peranan Bulu Babi dalam Ekosistem Lingkungan
Selain pemanfaatannya sebagai bahan pangan, biota ini juga sangat berperan dalam kesetimbangan ekosistem habitatnya. Seperti peran Diadema antillarum bagi terumbu karang diantaranya yaitu, peningkatan jumlah populasi jenis ini mengakibatkan kematian larva atau karang muda. Bila populasinya turun (absence grazing) karang akan ditumbuhi oleh alga yang dapat berakibat pada kematian karang dewasa dan tidak adanya tempat bagi larva karang (www.terangi.or.id.)
            Kehadiran populasi jenis ini penting bagi terumbu karang sebagai penyeimbang. Kesetimbangan populasi Diadema antillarum akan menjaga kesetimbangan populasi alga dan karang. Sedangkan kematian massal Diadema antillarum berdampak pada penurunan drastis tutupan karang, menurunnya kehadiran Invertebrata yang biasanya menetap di wilayah ini. Selain itu, terumbu karang dapat didominasi oleh alga. Pada tahun 1995 ternyata ditemukan bahwa populasi  yang sangat sedikit (pemulihannya membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun). Hilangnya induk menyebabkan jumlah larva juga sangat kurang. Meski telah mulai ada pemulihan Diadema, namun belum dapat diketahui apakah akan dapat mengembalikan terumbu karang yang hilang (www.terangi.or.id).
            Kematian massal bulu babi pernah terjadi pada tahun 1983-1984 di Pasifik Barat, yang dimulai dari Panama di awal Januari 1983 yang menyebar ke Karibia, Teluk Meksiko, Bahama, Bermuda dengan tingkat kematian mencapai 93-100%. Penyebabnya tidak diketahui dengan jelas, namun diduga terinfeksi bakteri. Dampak kematian bulu babi ini menyebabkan biomassa alga meningkat, karena makanan utama bulu babi adalah alga coklat, alga hijau dan lamun (Lasker dan Giese 1952; Herring 1972; Chiu 1985 dalam Azis 1993 diacu dari Ratna 2002). Wilayah perairan St. Croix mengalami peningkatan biomassa alga yang pesat hingga 400-500%, hanya berselang 5 hari setelah kematian bulu babi (www.terangi.or.id).
            Bila pada masa sebelum kematian alga perairan tersebut didominasi oleh turf alga dan crustose algae, maka setelah kematian massal bulu babi perairan itu didominasi oleh makro alga seperti Sargassum dan Turbinaria turbinata. Selain itu, kematian massal ini menyebabkan tutupan alga crustose, tutupan karang, dan gorgonian menurun drastis. Pada kasus ini, kompetitor bulu babi yang memakan turf alge ternyata tidak menunjukkan penambahan populasi yang berarti. Peningkatan populasi kompetitor baru meningkat berarti setelah beberapa tahun dari kematian missal.



III. METODE PENELITIAN

            Bulu babi (Tripneustes gratilla L) diperoleh dari pantai desa Rutong, kecamatan Baguala, kota Ambon dengan cara koleksi bebas dari individu dewasa diambil gonadnya dan dipotong kecil-kecil, kemudian ditimbang dan dikeringkan dalam oven pada suhu 45OC sampai beratnya konstan. Setelah beratnya konstan, gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) dihaluskan kemudian diekstraksi selama ± 2 jam dengan menggunakan pelarut petroleum benzene untuk mengisolasi minyak. Ekstrak yang diperoleh ditransesterifikasi dengan menggunakan katalis boron trifluorida (BF3) 15% dalam methanol ± 90 menit. Hasil transesterifikasi kemudian dianalisis dengan menggunakan GC-MS (Shimadzu QP-2010) untuk mengidentifikasi metil ester asam lemak dalam gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) yang diikat oleh katalis BF3 15% dalam methanol.


















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

            Komponen lemak pada biota laut, seperti bulu babi banyak mendapat perhatian selama ini karena mempunyai efek kesehatan, diantaranya adalah kemampuannya untuk menurunkan kadar kolesterol darah pada manusia dan dari segi pangan lemak sangat penting karena fungsinya sebagai penentu cita rasa (Chasanah dan Andamari, 1998).
            Pada umumnya, biota laut banyak mengandung asam lemak esensial mencakup golongan asam lemak tak jenuh jamak (Poly Unsaturated Fatty Acid/PUFA) tipe cis, khususnya dari kelompok asam lemak Omega-3 (misalnya asam α-linolenat, EPA, dan DHA) dan asam lemak Omega-6 (misalnya asam linoleat).
            Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ekstrak yang diperoleh dari isolasi minyak gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) adalah sebesar 14,674%. Hasil transesterifikasi minyak gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) dengan katalis BF3 15% dalam metanol tampak pada Tabel 1.

           
            Dari Tabel 1. Dapat dilihat minyak gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) mengandung lima asam lemak jenuh, yakni miristat, pentadekanoat, palmitat, stearat dan arakhidat dan dua asam lemak tak jenuh tunggal yaitu asam palmetoleat dan asam oleat. Kelima asam lemak jenuh dapat meningkatkan kolesterol serum dan kadar lipoprotein LDL sedangkan kedua asam lemak tak jenuh tunggal tergolong netral, yakni tidak jahat dan tidak pula bersifat menguntungkan untuk kesehatan tubuh. Jenis asam lemak ini tidak menyebabkan darah menjadi lengket. Selain itu minyak gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) juga mengandung asam lemak tak jenuh jamak (PUFA), yakni linolenat (omega-3). Dari segi gizi asam palmitat merupakan sumber kalori penting namun memiliki daya antioksidasi yang rendah (Droke and Lukaski, 2008).
            Dari hasil tersebut di atas dapat dilihat bahwa asam lemak gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) didominasi oleh asam palmitat (43,42%) dan asam linolenat (11.95%). Puncak metil ester asam palmitat (C17H34O2) dengan waktu retensi 20,117, sedangkan puncak metil ester asam linolenat (C19H32O2) muncul dengan waktu retensi 23,869.
            Asam linolenat adalah asam lemak yang baik untuk tubuh dan sangat berguna bagi kesehatan, merupakan asam lemak tidak jenuh dengan tiga ikatan ganda menurunkan kolesterol serum serta LDL serta menyebabkan darah menjadi kurang lengket. Salah satu isomer asam linolenat, asam α-linolenat (ALA), adalah asam lemak Omega-3 yang dikenal memiliki khasiat lebih daripada asam-asam lemak lain, khususnya dalam mencegah rusaknya membran sel. Karena asam lemak omega-3 merupakan asam lemak esensial yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia, maka omega-3 harus terdapat dalam makanan yang dikonsumsi manusia. (Mostofsky et al. 2001).
            Chasanah dan Andamari (1998) juga mendapatkan asam lemak dalam gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) didominasi oleh asam palmitat (42%) dan asam lemak esesial dari jenis asam linolenat (3%). Selain kedua jenis asam lemak tersebut juga terdapat asam lemak C18:0 dan C20. Jenis dan jumlah asam lemak yang diisolasi berbeda dengan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi alam perairan dan jenis makanan yang dikonsumsi oleh bulu babi tersebut.
            Floreto (1998), menemukan bahwa rumput laut berwarna hijau kaya akan C16 dan C18 PUFA (16:4n-3, 18:3n-3 dan 18:4n-3); rumput laut berwarna merah memiliki kandungan C20 PUFA (20:4n-3 dan 18:4n-3) dan C20 (20:4n-6 dan 20:5n-3) yang tinggi; sedangkan rumput laut berwarna coklat memiliki kandungan C18 (18:3n-3 dan 18:4n-3) dan C20 (20:4n-6 dan 20:5n-3) PUFA yang berlimpah. Kebiasaan memakan rumput laut mempengaruhi kandungan asam lemak esensial yang terkandung dalam gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L). Pada lokasi pengambilan sampel hanya terdapat jenis rumput laut yang berwarna hijau, hal tersebut turut mempengaruhi kandungan asam lemak dari gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L).
           



V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan
            Bulu babi Tripneustes gratilla L termasuk dalam kelas Echinoidea, dari filum Echinodermata (binatang berkulit duri). Ciri umum dari kelas Echinoidea adalah biota ini tidak mempunyai lengan bebas, tetapi hampir seluruh tubuhnya mengandung duri-duri yang dapat digerakkan (Suwignyo, 1989 dalam Roslita, 2000). Berdasarkan bentuk tubuhnya bulu babi dibagi menjadi bulu babi beraturan (regular echinoids) dan bulu babi tidak beraturan (irregular echinoids) (Hyman, 1955 dalam Roslita, 2000), dan hanya bulu babi beraturan saja yang dapat dimakan gonadnya (Darsono, 1982 dalam Roslita, 2000). Bulu babi Tripneustes gratilla L tergolong kelompok bulu babi beraturan. Pada umumnya bulu babi beraturan mempunyai struktur cangkang berbentuk bola yang biasanya sirkular atau oval dan agak pipih pada bagian oral dan aboral. Permukaan cangkang dilengkapi duri dengan panjang yang berbeda tergantung jenisnya, serta dapat digerakkan (Barnes, 1987 dalam Roslita, 2000). Cangkang tersusun dari lempengan-lempengan kapur yang membentuk pola pentaradial simetri. Lima pasang lempeng ambulakral tersusun bergantian dengan 5 pasang lempeng interambulakral. Lempeng ambulakral berukuran lebih kecil dan mempunyai lubang tempat penjuluran kaki tabung. Sedangkan lempeng interambulakral berukuran lebih besar dan melebar. Duri-duri utama terletak pada lempeng interambulakral, sedangkan duri-duri kecil tersebar di semua lempeng ambulakral (Sugiarto dan Supardi, 1995).
Minyak gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) memiliki kandungan asam lemak jenuh 5 jenis, yaitu miristat, pentadekanoat, palmitat, stearat dan arakhidat, serta terdapat asam lemak tak jenuh 3 jenis yang terdiri dari 2 asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA), yaitu asam palmetoleat dan asam oleat dan 1 asam lemak tak jenuh jamak (PUFA),yaitu linolenat. Pada umumnya, biota laut banyak mengandung asam lemak esensial mencakup golongan asam lemak tak jenuh jamak (Poly Unsaturated Fatty Acid/PUFA) tipe cis, khususnya dari kelompok asam lemak Omega-3 (misalnya asam α-linolenat, EPA, dan DHA) dan asam lemak Omega-6 (misalnya asam linoleat). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ekstrak yang diperoleh dari isolasi minyak gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) adalah sebesar 14,674%. Hasil transesterifikasi minyak gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) dengan katalis BF3 15% dalam metanol tampak pada Tabel 1.

           
            Dari Tabel 1. Dapat dilihat minyak gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) mengandung lima asam lemak jenuh, yakni miristat, pentadekanoat, palmitat, stearat dan arakhidat dan dua asam lemak tak jenuh tunggal yaitu asam palmetoleat dan asam oleat. Kelima asam lemak jenuh dapat meningkatkan kolesterol serum dan kadar lipoprotein LDL sedangkan kedua asam lemak tak jenuh tunggal tergolong netral, yakni tidak jahat dan tidak pula bersifat menguntungkan untuk kesehatan tubuh. Jenis asam lemak ini tidak menyebabkan darah menjadi lengket. Selain itu minyak gonad bulu babi (Tripneustes gratilla L) juga mengandung asam lemak tak jenuh jamak (PUFA), yakni linolenat (omega-3). Dari segi gizi asam palmitat merupakan sumber kalori penting namun memiliki daya antioksidasi yang rendah (Droke and Lukaski, 2008).


5.2. Saran
            Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh konsumsi gonad bulu babi terhadap kesehatan.
















DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2000. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Anonimus. 2003. Bulu babi Merah, Hewan yang Nyaris "Hidup Selamanya" [online]. www.kompas.com/teknologi/news/0311/25/163940.htm. 22 April 2007
Anonimus. WPI edisi November 2005, no.27. Direktorat Pemasaran Dalam Negeri.
Anonimus. 2006. Saudara Tua Manusia Tubuhnya Berduri [online] .http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0611/10/152724.htm 3 Mei 2007 Anonimus. 2007. Bulu Babi [online].www.pipp.dkp.go.id/pipp2/species.html?idkat= 12&idsp=259. 22 April 2007
Aziz, A. 1993. Beberapa Catatan tentang Perikanan Bulu Babi. Oseana Vol. 18 No. 2. Pusat Pengembangan Oseanologi. Indonesia – LIPI. Jakarta: Hal. 65-75.
Chasanah, E. dan R. Andamari, 1998. Komposisi Kimia, Profil Asam Lemak dan Asam Amino Gonad Bulu Babi Tripneustes gratilla dan Salmacis sp dan Potensi Pengembangannya. Prosiding Seminar Kelautan LIPI – UNHAS Ke 1, Balitbang Sumberdaya Laut, Puslitbang Oseanologi–LIPI Ambon, Maret 1998 : 269–274.
Darsono, P. 1982. Bulu Babi sebagai Sumber Protein Hewani. Oseana Vol. VIII No. 5. Lembaga Oseanologi Nasional – LIPI. Jakarta: Hal. 1 – 7.
Darsono, P. 1986. Gonad Bulu Babi. Oseana Vol. XI No. 4 Pusat Pengembangan Oseanologi Indonesia – LIPI. Jakarta: Hal. 151 – 162.
Darsono P dan Toso A V. 1987. Umur dan Pertumbuhan Bulu Babi Diadema setosum Leske di Perairan Terumbu karang Gugus Pulau Pari, Pulau-Pulau Seribu. Jakarta : Puslitbang Oseanologi LIPI
Droke, E. A., and H. C. Lukaski, 2008. Dietary Fatty Acids and Minerals: Fatty Acids in Foods and Theirs Health Implication. 3RD Ed. CRC Press Taylor and Francis Group, Boca Raton.
Floreto, E.A.T. 1998. Nutritional Value (Fatty Acids) of Some Japanese Seaweeds For The Culture Of The Tropical White Sea Urchin, Tripneustes gratilla. National Symposium on Marine Science. Cebu City, Philippines.
Gilbert, H. F. 2000. Basic Concepts in Biochemistry: A Student’s Survival Guide. McGraw Hill Companies. New York.
Gunarto dan Setabudi E. 2002. Perkembangan Gonad Bulu Babi (Tripneustes gratilla) di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Jakarta : Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan.
Hasan F. 2002. Pengaruh konsentrasi garam terhadap mutu produk fermentasi gonad bulu babi jenis Tripneustes gratilla (L) [skripsi]. Bogor : Departemen Teknologi Hasil Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor
Kasim, Ma’ruf. 1999. Aktivitas Merumput dan Pertumbuhan Bulu Babi (Tripneustes gratilla Linnaeus) pada Habitat Lamun di Perairan Bone-Bone Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara. Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Kurnia A. 2006. Meraup Yen dengan Memelihara Bulu Babi [online]. www.beritaiptek.com. 22 April 2007
Leimena, H. E. P. 2002. Potensi Pemanfaatan Beberapa Jenis Keong Laut (Moluska: Gastropoda). Jurnal Hayati, Volume 9 Nomor 3: 97-99.
Mostofsky. D. I., S. Yehuda and N. Salem, 2001. Fatty acids: Physiological and Behavioral Functions. Humana Press, Totowa, New Jersey.
Mukai, H. and S. Nojima. 1985. A Preliminary Study on Grazing and Defecation Rates of Sea Grass Grazer Tripneustes gratilla (Echinodermata: Echinoids) in a Papua New Guinean Sea Grass bed. Special Publication of Mukaishima Marine Biological Station. 185 – 192.
Murniyati dan Setiabudi. 1998. Bulu Babi, Berbahaya Namun Indah dan Bermanfaat. Penelitian Perikanan Indonesia Vol. 4 No. 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta.
Nontji A. 2005. Laut Nusantara. Jakarta : Djambatan
Pratt H S. 1935. A Manual of The Common Invertebrates Animals. McGraw Hill. Company Inc : New York
Ratna F D. 2002. Pengaruh penambahan gula dan lama fermentasi terhadap mutu pasta fermentasi gonad bulu babiDiadema setosum dengan Lactobacillus plantarum sebagai kultur starter [skripsi]. Bogor : Departemen Teknologi Hasil Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor
Roslita, Lia. 2000. Pengaruh Garam, Gula, dan Lama Fermentasi terhadap Mutu Pasta Gonad Bulu Babi Echinothrix Calamaris. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Siahaya, Donna Marselia. 2009. Analisis Kandungan Asam Lemak pada Gonad Bulu Babi (Tripneustes gratilla L). Ichtyos, Vol. 8 No. 2, Juli 2009: 75-79.
Sugiarto dan Supardi. 1995. Beberapa Catatan Tentang Bulu Babi Marga Diadema. Oseana Vol. XX No. 4 Pusat Pengembangan Oseanologi Indonesia – LIPI. Jakarta. Hal: 35-41.
Shahidi F and Botta. 1994. Seafoods Chemistry, Processing Technology and Quality. London : Blackie Academic Professional
Timotius, S. 2003. Biologi Terumbu Karang1 [online]. www.terangi.or.id/ publications/pdf/ biologikarang.pdf. 22 April 2007
Winarno, F.G. 2000. Kimia Pangan dan Gizi, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Winarno, F.G., S. Fardiaz, D. Fardiaz. 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Jakarta.


1 comment: